Ironi Cyornis Banyumas: Raja di Jatimulyo, Asing di Tanah Sendiri (Misi KSM Juneng Mijil Memulangkan Sang Maskot)

WhatsApp Image 2026 02 01 at 06.49.41

Burung Sikatan Cacing (Cyornis banyumas) adalah sebuah identitas. Dari nama ilmiahnya saja, dunia mengakui bahwa burung penyanyi ulung ini membawa nama besar “Banyumas”. Namun, sebuah ironi menyedihkan sedang terjadi: sang pemilik nama justru semakin sulit ditemukan di tanah kelahirannya sendiri.

Sementara di Desa Jatimulyo, Kulon Progo, burung ini hidup makmur dan menjadi primadona wisata minat khusus, di Banyumas ia justru terancam punah. Berangkat dari kegelisahan ini, KSM Juneng Mijil bertekad mengambil langkah besar: memulangkan kembali Cyornis banyumas ke habitat alaminya di sekitar Curug Juneng dan Desa Karangsalam Lor.

Belajar dari Jatimulyo: Konservasi Bernilai Ekonomi

Kisah sukses Desa Jatimulyo di Kulon Progo harus menjadi tamparan sekaligus inspirasi bagi kita. Di sana, warga sepakat untuk tidak menangkap burung. Hasilnya? Desa tersebut kini dibanjiri wisatawan, fotografer satwa, dan peneliti yang rela membayar mahal hanya untuk memotret Sikatan Cacing di alam bebas.

Di Jatimulyo, burung lebih berharga saat bertengger di dahan pohon daripada meringkuk di dalam sangkar. Ini membuktikan bahwa konservasi lingkungan dan keuntungan ekonomi bisa berjalan beriringan. Jika Jatimulyo bisa, mengapa Banyumas—sang pemilik nama asli—tidak?

Visi Besar KSM Juneng Mijil

Sebagai pengelola wisata berbasis alam, KSM Juneng Mijil menyadari bahwa daya tarik Curug Juneng bukan hanya air terjun, melainkan ekosistem yang utuh. Visi kami jelas: menjadikan kawasan hutan di sekitar Curug Juneng sebagai suaka mini bagi Cyornis banyumas.

Misi ini bukan sekadar melepaskan burung ke alam, tetapi membangun “rumah” yang nyaman bagi mereka untuk berkembang biak. Kami bermimpi, kelak wisatawan yang datang ke Curug Juneng akan disambut oleh kicauan merdu Sikatan Cacing yang bersahut-sahutan secara alami, sebuah orkestra alam yang sudah lama hilang.

Tantangan Nyata: Senapan dan Pestisida

Jalan menuju visi tersebut sangat terjal. Ada dua musuh utama yang membuat populasi Sikatan Cacing di Banyumas nyaris punah:

  1. Perburuan Liar yang Masif Mentalitas “eksploitasi” masih kuat. Banyak yang melihat burung ini hanya sebagai komoditas pasar burung. Para pemikat dan pemburu liar kerap masuk ke hutan-hutan desa, mengambil indukan hingga anakan. Tanpa kesadaran kolektif dan peraturan desa (Perdes) yang tegas melarang perburuan, upaya pelepasanliaran hanya akan menjadi “memberi makan” para pemburu.
  2. Kerusakan Rantai Makanan (Pestisida) Ini adalah pembunuh senyap. Sikatan Cacing adalah insektivora (pemakan serangga/cacing). Penggunaan pestisida kimia yang berlebihan di lahan pertanian warga telah memutus rantai makanan ini. Serangga mati, cacing tanah terkontaminasi racun. Akibatnya, burung mati keracunan atau bermigrasi karena tidak ada sumber pakan. Ekosistem tanah yang rusak membuat burung ini tidak bisa bertahan hidup.

Langkah ke Depan

KSM Juneng Mijil mengajak seluruh elemen masyarakat Desa Karangsalam Lor dan Pemerintah Kabupaten Banyumas untuk bersinergi. Langkah pemulihan harus dimulai dari:

  • Stop Perburuan: Penegakan aturan larangan berburu di area wisata dan hutan desa.
  • Pertanian Ramah Lingkungan: Mengurangi penggunaan pestisida kimia di lahan sekitar hutan agar pakan alami burung kembali tersedia.
  • Edukasi Warga: Menanamkan pemahaman bahwa burung di alam bebas bisa mendatangkan rezeki wisata yang lebih berkelanjutan dibanding menjualnya di pasar.

Memulangkan Cyornis banyumas adalah upaya mengembalikan harga diri alam Banyumas. Jangan sampai anak cucu kita nanti hanya mengenal nama “Banyumas” pada burung ini dari buku sejarah, sementara burungnya sendiri telah punah dari tanah leluhurnya.

baca Juga >> Upaya mengembalikan habitat burung di kawasan curug juneng

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top