
Di sebuah sudut Desa Karangsalam Lor, aliran Sungai Lirip pernah menyimpan kisah yang memprihatinkan. Kawasan yang dulu menjadi habitat burung-burung liar, kini perlahan kehilangan nyanyian alamnya. Bahkan, salah satu burung endemik khas Gunung Slamet, Sikatan Cacing (Cyornis Banyumas), semakin jarang terlihat. Kawasan yang seharusnya hidup justru tertutup semak belukar, tanaman liar, dan lahan yang tidak lagi produktif.
Namun dari kondisi itulah, KSM Juneng Mijil melihat harapan.
🌿 Memulai Dari Kepedulian
KSM Juneng Mijil percaya bahwa alam yang sehat adalah fondasi kehidupan masyarakat. Kawasan Sungai Lirip tidak hanya penting sebagai habitat satwa, tetapi juga sebagai penopang sumber air, potensi wisata, serta peluang ekonomi masyarakat.
Saat melakukan pemetaan awal, tim menemukan berbagai tantangan. Sebagian besar lahan di sepanjang sungai merupakan milik warga namun tidak terkelola dengan baik. Rumput liar seperti pacing tumbuh sangat dominan, menghambat tanaman produktif yang sebenarnya sudah ada seperti kopi, pala, dan tanaman buah lainnya.
Tidak hanya itu, rumpun bambu yang terlalu padat juga menimbulkan risiko longsor di beberapa titik tebing sungai. Bahkan, beberapa pohon roboh dan menutup akses jalur wisata. Kondisi ini menjadi tantangan besar yang harus dihadapi sebelum memulai langkah pemulihan.
Gotong Royong Menjadi Kekuatan

Perjalanan perubahan dimulai pada awal November 2025. Selama beberapa hari, tim bersama masyarakat melakukan pembersihan lahan secara bertahap. Rumput liar dibersihkan, tanaman yang tidak produktif dikurangi, dan rumpun bambu ditata ulang untuk mengurangi potensi longsor.
Proses ini bukan hanya pekerjaan fisik, tetapi juga menjadi ruang diskusi, belajar bersama, dan membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga lingkungan.
Setelah lahan siap, tahap berikutnya adalah pengadaan bibit. Ribuan bibit tanaman dikarantina terlebih dahulu agar dapat beradaptasi dengan kondisi lingkungan sekitar sebelum ditanam. Proses ini menjadi bukti keseriusan tim dalam memastikan keberhasilan program, bukan sekadar kegiatan seremonial.
Momentum Penanaman yang Menyatukan Banyak Pihak
Pada 9 November 2025, kegiatan penanaman simbolis dilaksanakan dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, pemerintah desa, lembaga, hingga perwakilan DPRD Kabupaten Banyumas. Momen ini menjadi titik awal kolaborasi yang lebih luas.
Penanaman kemudian dilanjutkan secara bertahap hingga pertengahan November 2025. Total 4.000 batang pohon berhasil ditanam di lahan seluas 4 hektare, meliputi tanaman aren, kopi, pala, durian, dan jeruk lemon.
Sebanyak 42 orang terlibat langsung dalam kegiatan ini, menunjukkan bahwa gerakan kecil dapat menjadi kuat ketika dilakukan bersama-sama.

Tantangan yang Menguatkan Komitmen
Selama proses pelaksanaan, tantangan tidak hanya datang dari kondisi alam dan lahan, tetapi juga dari proses membangun kesadaran masyarakat untuk melihat potensi jangka panjang. Tidak semua orang langsung percaya bahwa lahan yang terbengkalai dapat kembali produktif.
Namun seiring berjalannya kegiatan, perubahan mulai terlihat. Pemilik lahan mulai tertarik kembali mengelola tanah mereka. Keterlibatan generasi muda juga memberikan energi baru dalam gerakan konservasi ini.
Keberhasilan yang Tidak Hanya Terlihat Hari Ini
Keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari jumlah pohon yang ditanam. Dampak yang lebih besar mulai terasa dari meningkatnya kepedulian masyarakat terhadap kelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati.
Program ini juga membuka peluang baru, mulai dari penguatan ketahanan pangan, pengembangan UMKM berbasis hasil tanaman, hingga potensi wisata edukasi seperti birdwatching.
Bagi KSM Juneng Mijil, mimpi mengembalikan burung-burung liar ke habitatnya bukan sekadar romantisme alam. Ini adalah bagian dari upaya membangun ekosistem yang berkelanjutan, yang memberi manfaat bagi lingkungan sekaligus masyarakat sekitar.
Langkah Berikutnya: Menanam Harapan Jangka Panjang
Perjalanan tentu belum selesai. Ke depan, KSM Juneng Mijil merencanakan berbagai pelatihan lanjutan, mulai dari perawatan tanaman, pengolahan hasil panen, pengembangan produk turunan, hingga pemasaran. Bahkan, rencana inovasi edukasi berbasis teknologi seperti Augmented Reality sedang dipersiapkan untuk menarik minat generasi muda terhadap konservasi.
Program ini menjadi bukti bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah sederhana: menanam pohon, menanam harapan, dan menanam kolaborasi.
Sungai Lirip mungkin belum sepenuhnya pulih. Namun hari ini, kehidupan mulai tumbuh kembali. Dan bersama masyarakat, harapan itu terus dirawat.
