LATAR BELAKANG
Desa Wisata Karangsalam Lor terletak diantara Sungai Pelus di sebelah Timur sebagai batas dengan Desa Kotayasa dan Limpakuwus Kecamatan Sumbang dan sungai lirip di sebelah Barat sebagai batas dengan Desa Kemutug Lor. Di sungai tersebut (Pelus dan Lirip) terdapat beberapa Air Terjun/Curug yang sangat potensial dijadikan Wisata Alam. Tahun 2018 diawali dengan Pembukaan Curug Telu sebagai Wisata Desa Karangsalam Lor merintis menjadi Desa Wisata.
Gayung bersambut, setelah Curug Telu dibuka Wisata kemudian disusul Camp Area di Tanah desa yang terkenal dengan nama CAUB itu semakin ramai pula kunjungan wisatawan, sehingga muncul beberapa obyek baru dan pusat kuliner di Sentra Kuliner WKS. Hal tersebut merupakan dampak perkembangan teknologi informasi khususnya media social, banyak wisatawan mengabadikan kunjungannya ke Karangsalam Lor dan mengunggahnya ke Sosial media.

Pada tahun 2022 di Sungai Lirip beberapa konten creator wisata mulai berdatangan dan membuat konten di Curug Juneng dan Curug Kembar. Kemudian muncul ide dari masyarakat sekitar untuk membuka pengelolaan di Curug Juneng dan Curug Kembar.
Ide yang berawal dari obrolan santai baik di forum warga maupun di luar forum, akhirnya ditanggapi serius oleh Pemerintah Desa Karangsalam Lor. Pada pertengahan tahun 2023 Pemerintah Desa Karangsalam Lor dan beberapa Warga sekitar sepakat membentuk Kelompok Swadaya Masyarakat untuk mengelola Wisata di Curug Juneng dan Curug Kembar.
Pada saat itu Pokdarwis yang menjadi inisiator di Curug Telu sedang mengalami kekosongan, sehingga tidak mungkin untuk digandeng mengelola Destinasi baru, dan untuk menghindari potensi konflik maka disepakati pembentukan KSM, bukan Pokdarwis.
Perjalanan/Histori KSM Juneng Mijil
KSM Juneng Mijil Periode 1
Pada awal pembentukan KSM Juneng Mijil diisi penuh oleh Pemuda yang menjadi penggerak, dan mulai melakukan kegiatan pembuatan jalur
menuju Curug Juneng dan Curug Kembar secara madiri/swadaya. Pada tahun 2023 mereka mengusulkan pembangunan area Juneng pada musyawarah rencana pembangunan Desa.
Singkat cerita usulan tersebut di terima, sehingga pada APBDes Karangsalam Lor Tahun 2024 menganggarkan pembangunan awal akses ke Curug Juneng dan Curug Kembar senilai Rp. 26.000.000 lebih. Selain mengelola Curug Juneng dan Curug Kembar, KSM Juneng Mijil bekerja sama dengan BUMDES untuk mengelola HOMESTAY DESA. Pada awal tahun 2024 direncanakan pembangunan tersebut dilaksanakan oleh Pemerintah Desa

Karangsalam Lor, namun muncul penolakan dari beberapa pemilik lahan menuju Curug Juneng dan Curug Kembar, sehingga Pembangunan ditunda.
Hal tersebut karena adanya miskomunikasi antara pemilik lahan dengan KSM Juneng Mijil. Namun hal tersebut juga sangat berpengaruh kepada anggota KSM Juneng Mijil yang diisi anak muda. Beberapa bulan vakum tanpa kejelasan, sedangkan anggaran sudah siap, maka Pemerintah Desa Karangsalam Lor melaksanakan Reorganisasi KSM Juneng Mijil.
KSM Juneng Mijil Periode II
Pada pertengahan 2024 Pemerintah Desa Karangsalam Lor melaksanakan musyawarah pembentukan ulang Pengurus KSM Juneng Mijil di Balai Desa Karangsalam Lor. Beberapa orang yang dianggap potensial dimasukan ke pengurus KSM Juneng Mijil yang diharapkan bisa memecah kebuntuan dengan pemilik lahan. Sehingga terbentuklah kepengurusan KSM Juneng Mijil yang lebih kuat yang masih berjalan sampai saat ini. Tugas pertama yang dilaksanakan yaitu memecah kebuntuan negosiasi dengan pemilik lahan, dan akhirnya berhasil didapatkan kesepakatan. Pembangunan dari
APBDes dapat dilakukan pad bulan agustus-september 2024. Sehingga pada Oktober 2024 Curug Juneng dan Curug Kembar secara resmi
dibuka dan di kelola oleh KSM Juneng Mijil dengan tiket masuk Rp. 5000 per orang dengan pembagian hasil 20 % untuk pemilik lahan akses menuju curug tersebut.

Masuknya RT dan RW menjadi Investor Wisata
Pembangunan awal dari APBDes hanya cukup untuk membuka jalan sepanjang 70 meter saja, dan setelah dikelola mulai teridentifikasi kekurangan fasilitas dan anggaran. Sehingga memunculkan gagasan untuk mencari investor pihak ke tiga selain Pemerintah Desa. Beberapa ide muncul salah
satu yang sangat menarik dan akhirnya disetujui yaitu menggandeng RT dan RW untuk berpartisipasi menginveskan kas RT/RW nya ke Curug Juneng dan Curug Kembar dengan tawaran bagi hasil 20 % dari pendapatan tiket.

Selain menjadi solusi pendanaan, dengan bergabunggua RT/RW yang tidak lain adalah dana mandiri warga desa diharapkan mempunyai rasa memiliki wisata tersebut dan akan merasakan langsung dampak (Keuntungan) dari kegiatan wisata di Curug Juneng dan Curug Kembar. Besaran investasi awal yang disepakati adalah Rp. 500.000 per RT/RW, penyamarataan nilai investasi juga sebagai bentuk keadilan tidak memandang RT/RW
yang memiliki warga dan kas lebih banyak dari yang lain. Akhirnya pada akhir tahun 2024 terkumpulah dana inves dari RT / RW untuk melanjutkan pembangunan awal berupa Loket dan Kamar ganti serta biaya peningkatan akses ke curug Juneng dan Curug Kembar. Dan berdasarkan perhitungan
hingga bulan terakhir sudah hampir 70% investasi awal RT/RW telah kembali melalui pembagian hasil yang dilaksanakan setiap tanggal 21.

